Saat ini kita hidup pada
zaman penuh fitnah, di antaranya fitnah iftiraqul ummah (perpecahan
umat). Di antara banyak penyebab
perpecahan itu adalah perselisihan mereka dalam hal pemahahaman keagamaan.
Hanya yang mendapat rahmat
dari Allah Ta’ala semata, yang tidak menjadikan khilafiyah furu’iyah (perbedaan
cabang) sebagai ajang perpecahan di antara mereka.
Namun, yang seperti itu tidak
banyak. Kebanyakan umat ini, termasuk didukung oleh sebagian ahli ilmu yang
tergelincir dalam bersikap, mereka larut dalam keributan perselisihan fiqih
yang berkepanjangan.
Mereka tanpa sadar
‘dipermainkan’ oleh emosi dan hawa nafsu.
Untuk itulah materi ini kami
susun. Mudah-mudahan kita bisa meneladani para Imam kaum muslimin, mengetahui
kedewasaan mereka, dan sikap bijak dan arif mereka dalam menyikapi perselisihan
di antara mereka.
Perlu ditegaskan, yang
dimaksud khilafiyah di sini adalah perselisihan FIQIH yang termasuk
kategori ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan variatif), BUKAN PERSELISIHAN
AQIDAH yang termasuk ikhtilaf tadhadh (perselisihan kontradiktif).
Untuk perkara aqidah, hanya
satu yang kita yakini sebagai ahlul haq dan firqah
annajiyah (kelompok yang selamat) yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tidak yang lainnya.
Ada beberapa adab dalam
menyikapi KHILAFIYAH.
1. Kita meski ikhlas dalam
mengutarakan pendapat. Yang kita cari adalah ridho Allah Subhanahu Wa Taala
semata. Sehingga tidak merasa kecil hati jika ada perbedaan.
2. Memahami bahwa perbedaan
itu suatu keniscayaan. Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Perbedaan sudah
terjadi sejak zaman nabi terdahulu, zaman nabi Muhammad SAW dan zaman sahabat.
3. Ridhonya manusia adalah
suatu hal yang mustahil untuk dicapai.
4. Husnuzhon terhadap sesama
muslim.
5. Jangan keluar bahasa
kasar, mencela saudara muslim kita.
6. Jangan fanatik berlebihan
terhadap pendapat kita.
7. Membangun kesadaran bahwa
musuh kita bukan muslim yang berrbeda pendapat dalam fikih.
Bagi kita orang awam, boleh
mengikuti fatwa ulama yang paling kita yakini kebenarannya.
Namun, jika para ulama saja
saling menghormati perbedaan pendapat diantara mereka, maka sangat tidak pantas
jika sesama orang awam saling mencaci saudara muslim kita yang lain.
Wallahu A'lam.
Pemateri: ust. Farid nu'man
hasan ss.
Majelis iman islam
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email
Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon