google.com
"Dunia
itu ibarat seorang musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat lalu
dia pergi lagi" (HR. Tirmidzi)
Sahabatku ...
Hari Kiamat adalah hari yang besar. Hari
dimana orang taat dan pelaku maksiat keduanya menyesal. Mereka yang taat
menyesal, kenapa dulu tidak beramal lebih banyak dari apa yang telah dilakui.
Pelaku maksiat, sesal mereka adalah sesal yang tak terperi. ‘Sekiranya
kami dulu mendengarkan dan merenungi, tentu kami tidak menjadi penghuni neraka
ini’, kata
mereka.
Sahabatku ...
Mari kira renungkan kisah singkat berikut.
Kisah tersebut tentang sahabat Nabi yang
bernama Abu Darda RA dengan seekor untanya.
Abu Darda memiliki seekor unta yang ia beri
nama Damun. Tidak pernah ia letakkan suatu barang yang tidak mampu dibawa oleh
unta itu.
Apabila ada seorang yang meminjam si unta,
Abu Darda berpesan, ‘Engkau hanya boleh membawa barang ini dan ini padanya, karena ia
tidak mampu membawa yang lebih banyak dari itu’.
Ketika serasa ajal hendak datang
menjemputnya, Abu Darda memandang untanya kemudian berkata, “Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku”, jangan kau tuntut aku pada hari Kiamat kelak di hadapan Rabbku
wahai Damun, begitu kiranya kata Abu Darda. “Karena demi
Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi”, tutupnya.
Semoga Allah meridhai Abu Darda, dan
mengampuni kesalahannya.
Tentu kita teringat akan diri kita. Suami
akan teringat kepada istrinya, dan istri merenungkan adakah kata yang telah membebankan
suami.
Adakah kita sebagai suami memberi beban
yang tidak mampu diemban istri? Adakah kita sebagai istri menuntut sesuatu yang
terasa berat bagi suami? Adakah kita mengusahakan sesuatu di dunia ini, yang nanti kita akan
menyesali “Seandainya dulu aku tidak melakukan hal ini…”
Abu Darda RA, seorang yang shaleh, menghisab dirinya atas
ontanya, tentu kita lebih layak lagi berkaca dan mengoreksi diri.
Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di
hadapan Rabbku. Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu
kecuali yang engkau sanggupi.
Kisah Abu Darda ini diambil dari potongan
khotbah Jumat Syaikh Shalih bin Thaha Abdul Wahid.
Saudaraku ...
Kisah di atas menjadi inspirasi bagi kita
untuk saling menasehati, mengajak dan memotivasi untuk terus berada dalam
kebaikan. Dan adakalanya ajakan itu diterima dengan lapang dada, akan tetapi
tidak sedikit juga yang mencibirnya.
Saudaraku ...
Kalian semua menjadi saksi bahwa kami sudah
mengajakmu untuk selalu berada dalam kebaikan demi menunaikan amanah dari
Allah. Sehingga tidak ada lagi yang menuntut kami kelak di hari Kiamat.
Allahummasyhad Wahai Allah. Saksikanlah ...
Wallahu’alam.
Oleh: Ust.M.Shafwan Ellomboki
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon