google.com
Waktu pertama kali saya menginjakkan kaki
di tanah suci, salah satu di antara doa saya adalah, “Ya Allah, semoga saya bisa punya
hotel di tanah suci.” Yah, mimpi kan ga bayar. Doa juga. Malah kalo kita mau
doa, kita malah dibayar oleh Allah.
Tahun 2006 saya menginjakkan kaki pertama
kali di tanah suci. Alhamdulillaah. Sebelumnya ke Tanah Abang melulu, he he.
Tanah Abang, rute wajib waktu jadi mahasiswa. Naik Koantas Bima 102 warna
kuning jurusan Tanah Abang—Ciputat. “Habis, habis…” Ah, masih segar ingetan suara si abang kondektur waktu mengusir
kami dengan halus. Belum sampe Tanah Abang, tapi sudah habis. Baru juga sampe
Petamburan, dia udah pada muter, tapi ga papa saya memilih ga menggerutu. Ya,
saya memilih turun aja. Pasrah. Daripada dibawa lagi ke Ciputat? He he he.
Jalan dah. Sehat. Bisa melihat hiruk pikuk.
Tahun 2006 saya mulai menginjakkan kaki di
Tanah Suci. Alhamdulillaah. Sejak itu, bulak-balik. Di sana, saya ngebelusuk
hotel sana, hotel sini, baik di Madinah, maupun Makkah. Saya usahakan punya
perasaan, bahwa kelak salah satu hotel di sana, bakal dikasih Allah ke saya.
Pengen banget punya hotel di sana.
Bukan soal “punyanya”. Tapi soal menyediakan
tempat tinggal, tempat istirahat, buat tamu-tamu Allah. Kebayang sama saya
betapa besar pahalanya. Untung dunia akhirat. Saya berusaha menyerap energi
hotel-hotel tersebut dengan membayangkan sebagai owner hotel-hotel tersebut.
Kadang-kadang geli sendiri membayangkan diri ini sebagai Emir kecil, he he.
Membayangkan diri ini sebagai keluarga Pangeran Arab, he he. Dan saya pede,
hidung saya “dapet” dah. Belom pernah liat saya pake gamis dan sorban kepala?
Wuih, ganteng, he he. Arab banget.
Pernah sejenak saya berpikir, bahwa “Walaa tahinuu
walaa tahzanuu, wa-antumul a’lawna in kuntum mu’miniin.” Ya… Kenapa saya cuma membayangkan? Mending sekalian saya berdoa.
Membayangkan itu seperti mimpi: gratis. Tapi doa, sekali lagi, justru dibayar
oleh Allah. Rugi kalo cuma membayangkan, memimpikan. Sekalian aja berdoa…
Allah berfirman di ayat yang saya sebut
tadi, “Jangan kecil hati, jangan sedih… Kalian itu hebat, tinggi, bakal
jaya… Bakal sukses, bakal senang, bakal berhasil… Jika beriman kepada Allah, percaya
kepada-Nya.”
Percaya bahwa Allah bisa mewujudkan impian,
itu juga adalah iman. Siapa yang saudara percaya bisa mewujudkan impian
Saudara? Jika percayanya pada duit, maka tuhannya itu duit. Jangan. Percayalah
pada Allah. Duit boleh ga ada, tapi Allah akan selalu ada.
Duit boleh ga ada, tapi Allah akan selalu
ada.
Hingga kemudian Raja Arab membangun Grand
Zamzam, hotel wakaf, yang keuntungannya untuk pemeliharaan dua masjid suci,
Haram dan Nabawi. Bertambah semangat rasanya. Saya ga mau mikir segala
keterbatasan saya. Saya mau mikirnya mikir Kekuasaan Allah saja. Alhamdulillah,
saya dapat God Sign. Mudah-mudahan. God Sign itu apaan? Aayatun min
aayaatillaah. Tanda-tanda dari Allah. Sebelum dapat yang dituju, diberi yang
dipengeni, Allah suka ngasih tanda-tanda-Nya.
Saya menyadari, saya ini udah kayak owner
hotel-hotel tersebut. Masuk ga chek-in, ga bayar, keluar ga ditagih. He he,
dibayarin travel. Saya anggap ini God Sign awal dari Allah. Good Starting
Point.
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email
Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon