ceritaayah.tumblr.com
Saat itu, acara kami bersilaturahmi di panti asuhan sudah hampir selesai. Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah dan sejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang di titipkan kepada ibu asrama.
Aku bersiap-siap hendak ke
mobil, ketika seorang anak perempuan sebaya putriku berusia 6 tahun dengan
takut-takut mendekatiku. “Om?" tanyanya ragu. "Ya, ada apa
sayang?" aku mencoba ramah. Kulihat fia tidak seperti anak lainnya.
Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar
menunjukkan kecerdasan dan kemurnian hati.
"Om, bolehkah saya minta
sesuatu?"
"Mau minta apalagi?"
jawabanku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya.
"Eh eh, maksud Om,
apalagi yang kamu butuhkan?" kucoba memperbaiki diri saat kulihat bola
matanya mulai digenangi air mata.
"Bo...bolehkah
sa...sa...saya minta sesuatu?" tanyanya terbata dengan suara nyaris hilang
di embus angin.
"Tentu saja boleh
Sayang. Mau boneka Barbie?" Aku teringat putriku yang yang mengoleksi Barbie lengkap dengan rumah, pakaian, dan
pernak-pernik lainnya. Tapi gadis kecil ini menggelengkan kepala.
"Hmm.. sepatu baru
mungkin?" aku mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng...
"Atzu sebuah sepeda
mini?" tapi tetep saja dia menggeleng. Aku jadi kesal.
Mau minta apa sih?" Uang
barangkali omelku dalam hati...
"Apa Om nggak marah?"
tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya
sambil memegang kedua bahunya ...
“Katakan sayang, mau minta
apa?"
"Mmm...mmm, bolehkah
saya memanggil Om, Ayah?" tuturnya dengan penuh keraguan. "Saya...saya...
tidak pernah punya Ayah. Kata ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak
kereta api waktu saya masih dalam perut Ibu. Saya kepingin sekali punya Ayah.
Bolehkah saya memanggil Om, Ayah?".
Ya Allah, ada apa ini?
Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang
kutawarkan kepadanya?"
Dia hanya ingin memanggilku
Ayah.
Aku tidak pernah menangis,
kehidupan yang keras telah mengajariku lupa menitikkan air mata. Tapi saat ini
Hatiku terguncang hebat. allah swt secara telak mengalahkanku ...
astaghfirullah al - azhiim ...
Kupeluk dia erat-erat,"
Tentu saja sayang, kamu boleh memanggilku ayah."
Betul ???" Wajahnya
memyiratkan rasa tidak percaya, namun bahagia. Kami berpelukan beberapa saat...
"Ayah, bolehkah saya
minta satu lagi?" aku mengangguk ...
"Bolehkah saya
minta...minta foto ayah, ibu dan kakak-kakak? Saya akan kasih lihat sama
teman-teman di sekolah, bahwa saya juga punya keluarga sama seperti mereka.. boleh?"
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon