google.com
Banyak anggapan yang mengatakan bahwa futur adalah fenomena yang biasa
dialami bukan hanya manusia sebagai penyeru di'ayah (dakwah) akan tetapi
seringkali juga pada manusia yang mengkaji tentang ajaran dien.
Kisah tentang futur-nya sebagaian pasukan Thalut dalam memerangi pasukan Jalut
lantaran mereka terlalu banyak minum ketika bertemu dengan sungai dengan mata
air yang jernih, mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita.
"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata:
"Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di
antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada
meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku".
Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka
tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyebrangi
sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan
kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang
meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi
golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS Al-Baqarah 249)
Perjalanan dakwah dan orang-orang yang berjalan menuju Allah akan diuji dengan
berbagai kesenangan dan kemewahan dunia.
Hanya mereka yang meminum air seceduk sekedar pelepas dahaga yang mampu
bertahan, sementara yang meminum terlalu keyang akan enggan untuk melanjutkan
perjalanan.
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat
itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya
kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan." (QS Al-Maidah 105)
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka
adalah orang-orang yang beruntung. " (QS Ali Imran 104)
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau'izhah
hasanah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik (QS An-Nahl 125)
Kewajiban yang dibebankan dari generasi ke generasi secara estafet yaitu :
1. Kewajiban agar manusia "iqamatu hujjatillaahi" (menegakkan hukum
Allah) kepada sesama manusia
2. Kewajiban menyelamatkan manusia dari adzab akhirat dan kebinasaan di dunia.
Dan tujuan final seorang muslim dalam setiap langkahnya adalah untuk memperoleh
ridha Allah swt.
Rasulullah SAW bersabda :
"Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat"
"Allah memberikan rahmat bagi seseorang yang mengerti ucapanku dan
memahaminya kemudian menyampaikannya sebagaimana yang ia pahami, banyak orang
yang menerima itu lebih memahami daripada orang yang (pertama kali)
mendengarkan".
Allah menghendaki agar utusan-Nya yang menjadi teladan itu berasal dari
kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dialah rasul
mengajarkart kepada manu-sia Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah, serta menjadi
teladan dalam perilaku, ibadah, muamalah, dan kebiasaan sehari-harinya,
Sunatullah (ketetapan Allah) telah berlaku atas makhluk-Nya, bahwa Dia akan
mengutus pada tiap-tiap kaum seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.
Seruan kepada manusia untuk memeluk agama ini dengan lisan yang jujur, hati
yang teguh, dan akhlak yang mulia. Saling memberi contoh perilaku, pembicaraan
dan amalan sebagai teladan.
Saling memperbaiki apa-apa yang rusak dan meluruskan mana-mana yang bengkok.
dan tidak merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Berusaha untuk
tidak mengeluarkan dari mulut (perkataan) kecuali kebaikan.
"Ashlih nafsaka wad'u ghairaka " (perbaiki dirimu, kemudian ajak-lah
orang lain)
"Aqim daulatal islantifi qalbika, taqumfi ardhika" tegakkan daulah
Islam di hatimu, niscaya akan tertegak di bumimu).
Karena itu jauhkanlah dirimu dari meremehkan sesuatu dari amalanmu, sehingga
kamu tidak bisa telaga dari keterpedayaan dan kejahatannya dan janganlah kamu
persiapkan jawabannya pada hari hisab, karena sesungguhnya Allah senantiasa
meng-awasi kamu dan selalu menyaksikan tutur kata dan perbuatanmu.
Allah swt. berfirman, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan
ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf:18)
Hasan Al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya orang mukmin itu, demi Allah,
kami tidak melihatnya kecuali selalu mencela dirinya. Ia selalu bertanya,
"Apa yang saya inginkan dengan kata-kataku, apa yang saya inginkan dengan
makananku, dan apa yang saya inginkan dengan obrolanku. Dan sesungguhnya orang
yang fajir (celaka) itu terus berlalu dan tidak pernah mencela dirinya."
Luqman berkata kepada putranya, "Hai anakku, sesungguh-nya iman adalah
qaid (pembimbing), dan amal adalah saiq (me-nyetir), sedangkan nafs (jiwa)
adalah orang yang kebingungan. Karena itu jika sopirnya menjadi lemah maka ia
akan tersesat dari jalan, dan jika pernbimbingnya lemah maka ia mogok. Apa-bila
keduanya bergabung, maka istiqamahlah dia."
Hendaknya kita selalu muhasabah terhadap dirinya, terhadap setiap gerak dan
diamnya, hingga amal menjadi ikhlas semata untuk mencari ridha Allah swt Itulah
pengawasan yang selalu melihat kita, bahwa sesungguh-nya manusia itu transparan
di hadapan Allah, ia tidak bisa ber-sernbunyi dan tidak bisa lolos.
Seperti firman Allah swt., "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu me-ngetahui."
(Al-Anfal: 27)
Sebagaimana diperintahkan oleh Al-Qur'an yaitu bijak dalam caranya, baik dalam
tutur kata, dan mujadalah (berdebat) dengan cara yang lebih baik. Karena
apabila ikhlas dalam dakwahnya maka ia akan terhindar dari sum'ah riya', dan
gila popularitas.
Ali bin Abi Thalib ra berkata, "Orang yang riya' itu memilik empat tanda;
malas ketika sendirian, semangat ketika berada dan tengah-tengah manusia,
bertambah amalnya ketika dipuji, dan berkurang amalnya ketika tidak mendapat
pujian."
Ali bin Abi Thalib ra juga berkata "Janganlah kamu melihat sedikitnya
amal, tetapi perhatikanlah. diterimanya (amal itu), karena Nabi SAW berkata
kepada Mu'adz, "Ikhlaskanlah amalmu, maka akan cukup bagimu (amal) yang
sedikit".
Allah berfirman : "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih
dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran" (QS Al-Ashr 1-3)
Manusia dalam keadaan merugi kecuali otang yang melakukan 4 perkara :
1. Beriman kepada Allah
2. Beramal Shalih
3. Saling memberi tausiyah supaya menaati kebenaran
4. Dan saling memberi tausiyah dengan menetapi kesabaran
Oleh: Arien
Oleh: Arien
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon