UKMKI Poltekkes Kemenkes Surabaya

Lembaga Dakwah Kampus Poltekkes Kemenkes Surabaya
Jl. Pucang Jajar Tengah 56 Surabaya

Fenomena Futur

google.com

Banyak anggapan yang mengatakan bahwa futur adalah fenomena yang biasa dialami bukan hanya manusia sebagai penyeru di'ayah (dakwah) akan tetapi seringkali juga pada manusia yang mengkaji tentang ajaran dien.



Kisah tentang futur-nya sebagaian pasukan Thalut dalam memerangi pasukan Jalut lantaran mereka terlalu banyak minum ketika bertemu dengan sungai dengan mata air yang jernih, mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita. 

"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyebrangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS Al-Baqarah 249)

Perjalanan dakwah dan orang-orang yang berjalan menuju Allah akan diuji dengan berbagai kesenangan dan kemewahan dunia. 

Hanya mereka yang meminum air seceduk sekedar pelepas dahaga yang mampu bertahan, sementara yang meminum terlalu keyang akan enggan untuk melanjutkan perjalanan. 

"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Al-Maidah 105)

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. " (QS Ali Imran 104)

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau'izhah hasanah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik (QS An-Nahl 125)

Kewajiban yang dibebankan dari generasi ke generasi secara estafet yaitu : 
1. Kewajiban agar manusia "iqamatu hujjatillaahi" (menegakkan hukum Allah) kepada sesama manusia
2. Kewajiban menyelamatkan manusia dari adzab akhirat dan kebinasaan di dunia. 

Dan tujuan final seorang muslim dalam setiap langkahnya adalah untuk memperoleh ridha Allah swt. 

Rasulullah SAW bersabda :
"Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat"

"Allah memberikan rahmat bagi seseorang yang mengerti ucapanku dan memahaminya kemudian menyampaikannya sebagaimana yang ia pahami, banyak orang yang menerima itu lebih memahami daripada orang yang (pertama kali) mendengarkan". 

Allah menghendaki agar utusan-Nya yang menjadi teladan itu berasal dari kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dialah rasul mengajarkart kepada manu-sia Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah, serta menjadi teladan dalam perilaku, ibadah, muamalah, dan kebiasaan sehari-harinya, Sunatullah (ketetapan Allah) telah berlaku atas makhluk-Nya, bahwa Dia akan mengutus pada tiap-tiap kaum seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.

Seruan kepada manusia untuk memeluk agama ini dengan lisan yang jujur, hati yang teguh, dan akhlak yang mulia. Saling memberi contoh perilaku, pembicaraan dan amalan sebagai teladan. 

Saling memperbaiki apa-apa yang rusak dan meluruskan mana-mana yang bengkok. dan tidak merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Berusaha untuk tidak mengeluarkan dari mulut (perkataan) kecuali kebaikan.


"Ashlih nafsaka wad'u ghairaka " (perbaiki dirimu, kemudian ajak-lah orang lain) 
"Aqim daulatal islantifi qalbika, taqumfi ardhika" tegakkan daulah Islam di hatimu, niscaya akan tertegak di bumimu). 

Karena itu jauhkanlah dirimu dari meremehkan sesuatu dari amalanmu, sehingga kamu tidak bisa telaga dari keterpedayaan dan kejahatannya dan janganlah kamu persiapkan jawabannya pada hari hisab, karena sesungguhnya Allah senantiasa meng-awasi kamu dan selalu menyaksikan tutur kata dan perbuatanmu. 

Allah swt. berfirman, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf:18) 

Hasan Al-Bashri mengatakan, "Sesungguhnya orang mukmin itu, demi Allah, kami tidak melihatnya kecuali selalu mencela dirinya. Ia selalu bertanya, "Apa yang saya inginkan dengan kata-kataku, apa yang saya inginkan dengan makananku, dan apa yang saya inginkan dengan obrolanku. Dan sesungguhnya orang yang fajir (celaka) itu terus berlalu dan tidak pernah mencela dirinya."

Luqman berkata kepada putranya, "Hai anakku, sesungguh-nya iman adalah qaid (pembimbing), dan amal adalah saiq (me-nyetir), sedangkan nafs (jiwa) adalah orang yang kebingungan. Karena itu jika sopirnya menjadi lemah maka ia akan tersesat dari jalan, dan jika pernbimbingnya lemah maka ia mogok. Apa-bila keduanya bergabung, maka istiqamahlah dia." 

Hendaknya kita selalu muhasabah terhadap dirinya, terhadap setiap gerak dan diamnya, hingga amal menjadi ikhlas semata untuk mencari ridha Allah swt Itulah pengawasan yang selalu melihat kita, bahwa sesungguh-nya manusia itu transparan di hadapan Allah, ia tidak bisa ber-sernbunyi dan tidak bisa lolos. 

Seperti firman Allah swt., "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu me-ngetahui." (Al-Anfal: 27)

Sebagaimana diperintahkan oleh Al-Qur'an yaitu bijak dalam caranya, baik dalam tutur kata, dan mujadalah (berdebat) dengan cara yang lebih baik. Karena apabila ikhlas dalam dakwahnya maka ia akan terhindar dari sum'ah riya', dan gila popularitas.

Ali bin Abi Thalib ra berkata, "Orang yang riya' itu memilik empat tanda; malas ketika sendirian, semangat ketika berada dan tengah-tengah manusia, bertambah amalnya ketika dipuji, dan berkurang amalnya ketika tidak mendapat pujian."

Ali bin Abi Thalib ra juga berkata "Janganlah kamu melihat sedikitnya amal, tetapi perhatikanlah. diterimanya (amal itu), karena Nabi SAW berkata kepada Mu'adz, "Ikhlaskanlah amalmu, maka akan cukup bagimu (amal) yang sedikit".

Allah berfirman : "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (QS Al-Ashr 1-3)

Manusia dalam keadaan merugi kecuali otang yang melakukan 4 perkara : 
1. Beriman kepada Allah 
2. Beramal Shalih 
3. Saling memberi tausiyah supaya menaati kebenaran 
4. Dan saling memberi tausiyah dengan menetapi kesabaran

Oleh: Arien



Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Previous
Next Post »

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon