google.com
Siapapun orang di kalangan kaum muslimin pasti pernah
mendengar kata ‘aqidah’. Di berbagai kesempatan yang berkaitan dengan hal-hal
yang bersifat keagamaan perkataan ini sering terucap. Bahkan para ustadz, kiyai
dan da’i menyatakan bahwa aqidah merupakan pondasi bangunan Islam.
Apa sebenarnya faedah dan keutamaan dari aqidah Islam itu
? tulisan berikut akan sedikit mengulas tentang hal tersebut.
Bilal
adalah seorang budak hitam milik seorang qurays yang bernama Umayah. Ketika
terbit cahaya Islam, Bilal merupakan salah seorang yang Allah beri hidayah untuk
merasakan cahaya Islam tersebut. Beliau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
benar kecuali Allah. Kian hari semakin kokoh dan subur benih Islam di hati
beliau. Sampai suatu ketika tuan beliau yang masih kafir mengetahui keislaman
beliau dan murka. Bilal dipaksa untuk kembali kepada kekafiran dan beribadah
kepada beragam sesembahan yang ada.
Iman yang bersemayam di hati Bilal
membuatnya tegar menghadapi berbagai siksaan yang luar bisa kejamnya. Bilal
disiksa dengan dijemur di tengah terik matahari padang pasir, ditindih tubuhnya
dengan batu besar dan disiksa dengan berbagai siksaan lain yang luar biasa
kejam. Namun di saat diuji dengan siksaan itu, hati beliau merasakan sejuknya
sebuah keimanan, sehingga terlontar dari mulut beliau yang mulia....Ahad (Allah
Maha Esa)...Ahad...
Kita akan terheran, dan mungkin akan segera bertanya
mengapa Bilal dan para sahabat yang lain begitu tegarnya menghadapi ujian,
intimidasi dan siksaan yang seberat itu ? Jawabnya adalah, karena mereka telah
mendapatkan sebuah kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang tidak banyak
dipahami oleh kebanyakan orang. Karena umumnya manusia menyatakan bahwa bahagia
itu adalah kekayaan yang melimpah, rumah indah, kendaraan mewah dan terpenuhinya
segala fasilitas keduniaan. Memang itu semua adalah pendukung kebahagiaan di
dunia, namun dalam dataran kehidupan, kita banyak menemukan orang yang telah
terpenuhi segala materi dunianya tetap saja merasakan kesumpekan hidup, tidak
tenang, stress, bahkan tak jarang mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri...
naudzubillah min dzaalik. Inikah kebahagiaan ?
Mungkin ada pula yang akan berkata, kalau demikian bahagia itu harus
meninggalkan urusan dunia, hidup miskin, mengembara, tidak usah punya isteri dan
keluarga atau………...? Itu juga bukan sebuah kebahagiaan yang benar, karena
kebahagiaan bisa dinikmati oleh si kaya maupun si miskin, tua atau muda dan
segala kalangan.
Berkaitan dengan hal ini para ulama
mendefinisikan, kebahagiaan adalah ketenangan hati, lapangnya dada, dan merasa
cukup dengan pemberian Allah. Itulah kebahagiaan, dan segalanya hanya bisa
diraih dengan keimanan yang benar, sebagaimana sabda Nabi .shallallaahu alaihi
wasallam “Sungguh mengherankan perkaranya orang mukmin, karena setiap perkaranya
akan baik baginya, apabila dia mendapatkan kenikmatan maka dia bersyukur dan itu
baik bagi dia, dan apabila ia mendapatkan musibah maka ia bersabar maka itupun
baik bagi dia” (HR Bukhari).
Inilah peran sebuah keimanan
atau aqidah yang benar, yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang
sebenarnya. Dunia memang tidak pernah sepi dari kesedihan dan kesenangan,
kemudahan dan kesukaran. Menghadapi hal tersebut seorang insan muslim yang
beraqidah lurus akan selalu tegar menghadapi goncangan badai kehidupan. aneka
ragam musibah, seperti kekurangan harta, kekurangan jiwa (kematian anak atau
keluarga), kekurangan bahan pangan, pakaian atau ancaman, insya Allah akan mampu
diatasi dengan ketegaran. Di dalam hatinya dipenuhi rasa harap kepada Allah,
ketergantungan kepada Allah, tawakkal, sabar , dan ridha terhadap ketentuan
Allah. Tak goyah imannya dengan ujian-ujian tersebut bahkan semakin kokoh,
mendorongnya untuk lebih mendekat kepada Allah dan mengikhlaskan doa hanya
kepadaNya semata. Ia mengaplikasikan sabda Rasulullah shallalllahu alaihi wa
sallam “Apabila engkau meminta mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon
pertolongan maka mohonlah kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi).
Maka disaat itulah bertambah ketenangan dan kebahagiaan di dalam
hatinya, yang kebahagiaan itu tak dirasakan oleh mereka yang tak kenal akan
Tuhannya. Ia pun yakin akan firman Allah: “Apabila Allah menimpakan bahaya
kepadamu maka tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali Dia.” (QS Al An ‘am).
Hal tersebut di atas berbeda dengan mereka yang lemah aqidah dan imannya. Ujian
yang datang sering membuat goncang, putus asa, mengumpat takdir atau terkadang
lari kepada hal-hal yang lemah seperti meminta bantuan paranormal atau jin.
Insan yang beraqidah lurus akan menjadi pribadi yang penuh dengan keindahan. Hal
ini karena jelasnya tujuan hidup yang ia miliki, hendak kemana, untuk apa dan
mengapa dia hidup di dunia. Maka jelaslah arah perjalan dia, sangat pasti ia
melangkah dan tak ragu-ragu untuk menapak kehidupan. Ia sangat paham dengan
tujuan hidup dia…….
“Tidaklah aku ciptakan jin dan
manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS Adz dzariyat :
56).
Maka,
penggalian nilai-nilai kesempurnaan Islam yang diawali dengan aqidah adalah hal
yang tak tertawarkan lagi.
Mari kembali kepada Islam... !
Wallallahu a’lam
bish shawab
Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Sign up here with your email

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon