UKMKI Poltekkes Kemenkes Surabaya

Lembaga Dakwah Kampus Poltekkes Kemenkes Surabaya
Jl. Pucang Jajar Tengah 56 Surabaya

Kampus Tempat Lahirnya Para Pejuang Sosial

google.com

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan hanya kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” (Pramoedya A. Toer)

Tunisia, 18 Desember 2010, masyarakat dunia dikejutkan dengan aksi bakar diri Mohammad Bouazizi, seorang lulusan sarjana yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima di kota Sidi Bouzid. Aksi protes itu dipicu oleh indsiden kekerasan yang dilakukan oleh polisi terhadap para pedagang kecil di Tunisia, dimana usaha-usaha mikro kerakyatan di Tunisia tidak lagi diberikan tempat oleh agenda pembangunan Tata Ruang Wilayah Pemerintah Kota.

Pedagang dianggap melanggar aturan sehingga polisi seenaknya mengusir para pedagang dan menyita barang dagangan mereka. Bahkan pejabat kota Sidi Bouzid ada di balik penyitaan barang dan pengusiran para pedagang kecil di kota tersebut. Lantas hal itu yang membuat Mohammad Bouazizi mengambil keputusan yang sangat gila dan berisiko. Lulusan kampus itu membakar diri di hadapan khalayak umum sebagai bentuk protes terhadap kesewang-wenangan penguasa terhadap rakyat kecil di Tunisia. Bakar diri disinyalir sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa yang zalim, korup dan otoritarian.

Api yang membakar tubuh Bouazizi menjalar pula ke seluruh tubuh masyarakat Tunisia, hingga api yang menyala-nyala di tubuh Bouazizi itu mampu membakar kemarahan masyarakat Arab untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Diktator di kawasan negara-negara Arab.

Sebulan kemudian, Tuhan memanggil Bouazizi untuk pulang ke pangkuanNya, lelaki itu telah berpulang ke rumah Sang Pencipta tetapi Revolusi Arab (Arab Spring) yang membuat nama Bouazizi tetap hidup. Bouazizi tidak mati, keberaniannya bergerilya, meresap ke dalam benak masyarakat dunia dan menegur perasaan kita semua bahwa pemerintahan yang menyimpang tidak bisa lagi dibiarkan berkuasa tanpa adanya perlawanan. Hingga api perlawanan Bouazizi mampu menggerakan jutaan masyarakat Arab untuk menggelorakan revolusi di kawasan Timur Tengah.

Kisah ini aku gambarkan kepada pembaca agar kita semua mengerti bahwa jika hidup hanya untuk beternak, lalu apa yang membedakan diri kita dengan hewan? Jangan lihat aksi bakar diri, tetapi telisik lebih jauh, darimana asal-usul keberanian dan kenekatan yang dimiliki oleh pemuda yang bernama Bouazizi? Ia merelakan tubuhnya hangus terbakar agar penguasa Tunisia mendengar jeritan orang-orang miskin yang lapak dagangnya digusur dan barang dagangannya disita!

Dia merelakan masa mudanya untuk kepentingan yang jauh lebih besar, seraya berpesan kepada anak-anak muda lainnya: lebih baik mati dibandingkan hidup dalam kepatuhan dan hanya diam melihat kekuasaan yang zalim. Pesannya seperti pesan yang pernah diteriakan oleh Bung Tomo di depan ratusan pemuda Surabaya yang akan melawan Inggris dan Belanda: lebih baik kita di bom atom hingga hancur lebur daripada hidup dalam keadaan terjajah.

Bouazizi, Bung Tomo dan pejuang lainnya tidak menghabiskan masa muda mereka dengan berpangku tangan dan menjadi benalu. Tetapi mereka lahir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi penolong dan pejuang sosial bagi kemaslahatan manusia pada umumnya.

Coba bandingkan kisah Bouazizi dengan dirimu, apakah kamu punya kepedulian dengan orang-orang di sekitarmu? Atau ada dimana dirimu ketika terjadi penggusuran pedagang kecil di dekat lingkungan kampus? Apakah kamu masih punya nyali dan keberanian? Rasanya kampus semakin kehilangan anak-anak muda yang bernyali dan memiliki nurani.

“Kutanyakan pada kalian berapa jumlah hutang luar negeri kita? Jangan sebutkan angka tapi katakan saja dengan apa kita membayarnya. Mampukah ilmu ekonomi yang kalian pelajari memecahkan kasus ini? Hutang yang menggunung dengan bunganya akan kita bayar dengan cara apa? Sudah semua harta kita jual bersama: minyak, emas, batubara hingga tenaga kerja wanita. Seluruhnya kita jual untuk alasan yang sering diulang-ulang: mensejahterakan!” –Eko Prasetyo

Lihatlah Sukarno, Hatta dan Tan Malaka, baca kisah Fidel Castro, Che Guevara, Munir dan Marsinah, lihatlah bagaimana mereka menghabiskan masa muda mereka. Tidak ada kata patuh dan kompromi terhadap penguasa korup, zalim dan penguasa yang telah menghardik orang miskin. Mereka memilih melawan dan berjuang bersama masyarakat, hingga pengucilan, ancaman pembunuhan hingga pengasingan menjadi risiko yang harus mereka hadapi setiap hari.

Tahukah kalian bahwa negeri ini di proklamirkan oleh lulusan kampus? Yang satu bernama Sukarno, dan yang satu lagi bernama Mohammad Hatta.

Sukarno yang saat itu masih mahasiswa dengan berani menolak tawaran bekerja sebagai asisten dosen di kampusnya Technische Hogeschool. Ia menolak dan lebih memilih memilih untuk beragitasi dari mimbar satu ke mimbar yang lainnya. Memberantas buta huruf dari desa satu ke desa lainnya.

Sedangkan Mohammad Hatta dengan tegas dan berani melawan Kerajaan Belanda yang telah memberikan ia beasiswa kuliah di Belanda!

Berbeda dengan hari ini, sudah sangat jarang ada mahasiswa yang rela menderita demi masyarakat, yang ada hanyalah penderitaan masyarakat dimana-mana. Bahkan mahasiswa kini, yang disebut-sebut sebagai agen perubahan (?) sering menggadaikan prinsipnya kepada kekuasaan yang zalim. Padahal, tugas mahasiswa sebagai aktor/pemimpin dalam perubahan ialah bergabung dengan masyarakat untuk menghancurkan sistem yang keji.

Dari dalam kampus, mereka berdiskusi, mendirikan studi klub hingga mendirikan sekolah-sekolah gratis untuk pribumi seperti Sekolah SI Onderwijs yang didirikan oleh Semaoen dan Tan Malaka di Semarang dan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Mereka semua merupakan para pelajar dari perguruan tinggi dan anak-anak muda yang berjuang saat seusia kalian.

Mereka menempatkan ketajaman berpikir, kemampuan berbicara dan keahilan berpolitik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan melawan pemerintahan Belanda, bukan malah melayani kepentingan politik penguasa.

Di Yogyakarta, beberapa Mahasiswa UGM ikut berjuang bersama petani Kulonprogo yang tanahnya ingin digusur oleh Sultan untuk pembangunan Bandara. Di Institut Teknologi Bandung, temanku dari Komune Rakapare beberapa kali mendapatkan ancaman Drop Out dari kampus karena terus menerus menyuarakan penolakan penggusuran pedagang kaki lima yang berdagang di depan kampus ITB.

Tanyakan kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan kepada lingkunganmu? Ilmu-ilmu yang kau pelajari di kelas itu untuk apa, untuk siapa? Aku titipkan pertanyaan dari WS Rendra kepada para mahasiswa: Kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan disini akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan?

oleh: Andika Ramadhan Febriansah


Bagikan artikel ini bila bermanfaat. "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim)
Previous
Next Post »

Jika ada kesalahan silahkan berkomentar. Terima kasih telah saling mengingatkan dalam kebaikan dengan memberikan kritik dan saran. ConversionConversion EmoticonEmoticon